Selasa, 22 Februari 2011

SENGSARA MEMBAWA NIKMAT

Allah tidak menjadikan kemudahan setelah kesulitan, akan tetapi Allah menjadikan kemudahan bersama kesulitan. Allah berfirman, "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Inshirah :5-6) Ayat ini menegaskan dua perkara : Pertama, dekatnya kemudahan dengan kesulitan, hingga seolah seolah keduanya terjadi secara bersamaan atau selalu berhubungan. Dalam hal ini seorang ulama salaf mengatakan, " Jika kesulitan masuk kedalam sebuah sarang, maka kemudahan akan mengikutinya," Kedua, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan secara pasti, bersama ketidakdapatan ada anugerah dan bersama kemiskinan ada kekayaan. Semua ini kadang kala dapat dilihat mata dan dirasa, kadang kala samar dan tersimpan. Inilah bentuk kelembutan Allah. Dalam setiap taqdir ada kelembutan dan dalam setiap bencana ada nikmat. Barangsiapa bepikir bahwa kelembutan Allah tidak ada pada dirnya, maka itu karena dangkalnya pandangan dalam melihat pengaruh firman Alllah, "Sesungguhnya Tuhanku Maha lembut terhadap apa yang Dia kehendaki." (Qs. Yusuf: 100)

Minggu, 31 Oktober 2010

Idul Qurban

Tidak terasa setahun yang lalu. Beberapa hari kedepan, kita akan kembali beridul qurban. Rasanya idul qurban sangat berbeda bila dibandingkan dengan idul fitri. Kalau idul fitri kita lihat seminggu sebelum dan sesudahnya, televisi selalu melaporkan arus mudik dan arus balik saudara-saudara kita yang beridul fitri di kampung halaman masing-masing, sangat berbeda dengan tradisi idul adha/qurban. Dari sekian suku yang ada di Indonesia, tradisi mudik suku Madura malah terjadi di idul qurban. Suku yang lainnya hampir sama. Artinya idul qurban, banyak saudara-saudara kita muslimin tidak mudik atau pulang kampung. Ini berarti Jakarta tidak selengang idul fitri. Jakarta macet. Nah, karena banyak yang tidak mudik, sudah dipastikan jamaah idul adha di kota-kota besar maupun kecil lebih banyak jamaahnya. Idul adha adalah idul qurban. Idul qurban konotasinya adalah "nyate". Memang untuk orang-orang kecil, para dhuafa dipastikan jarang nyate, kecuali kalau idul adha. Itupun kalau kebagian. Kalau tidak, mereka nyaris setahun tidak pernah makan sate. Pantas kalau fakir miskin berburu daging qurban kalau idul adha, karena mereka ingin merasakan kebahagiaan kelezatan makan sate. Karena itu marilah kita dahulukan mereka untuk menikmatinya, sambil kita menatap mereka dengan penuh kasih sayang dari hamba-hamba yang malang nyaris terlupakan. Mari kita berqurban. Kita korbankan harta kita untuk sesama, agar mereka tersenyum.


Rabu, 21 Juli 2010

ONH tahun 1431 H/2011 turun !

Biaya Haji Tahun Ini Rata-rata Rp 31 juta

Suryadharma Ali. TEMPO/Dwianto Wibowo

TEMPO Interaktif, Jakarta -Kementerian Agama dan Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat menetapkan biaya haji tahun ini rata-rata sebesar 3.342 riyal atau Rp 31.080.600.

“Nilainya turun US$ 80 dari tahun lalu sebesar 3.422 riyal dan jemaah tidak dibebankan biaya asuransi sebesar Rp 100 ribu,” kata Menteri Agama Suryadharma Ali dalam rapat penetapan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji di Dewan Perwakilan Rakyat hari ini.

Biaya asuransi masuk dalam komponen biaya tidak langsung yang dibebankan dari suku bunga setoran awal jemaah.

Biaya tersebut berbeda-beda untuk 11 embarkasi. Biaya ibadah haji jemaah embarkasi Aceh sebesar 3.147 riyal, Medan 3.237 riyal, Batam 3.325 riyal, Padang 3.323 riyal, Palembang 3.280 riyal, Jakarta 3.364 riyal, Solo 3.327 riyal, Surabaya 3.432 riyal, Banjarmasin 3.440 riyal, Balikpapan 3.474 riyal, dan Makassar sebesar 3.505 riyal.

Besaran biaya tersebut menggunakan kurs Rp 9.300 per dolar dan Rp 2.500 per riyal. Satu dolar ditetapkan dengan standar 3,72 riyal
Komposisi biaya haji sebesar US$ 3.342 terdiri dari biaya penerbangan dengan rata-rata US$ 1.720, biaya layanan ke Pemerintah Arab Saudi sebanyak US$ 277, biaya pemondokan di Mekah sebesar 2.850 riyal, biaya pemondokan di Madinah 600 riyal dan biaya hidup sebesar US$ 405.

Suryadharma berjanji penurunan biaya haji diikuti dengan peningkatan layanan, seperti masuknya 63 persen (126 ribu jemaah) di ring 1 pemondokan Mekah, yang tahun lalu hanya 27 persen. “Kami dapat menurunkan plafon pemondokan di Mekah karena ketersediaan cadangan optimalisasi,” kata dia.

Wakil Ketua Komisi VIII Gondo Radityo Gambiro menyatakan Komisi menerima keputusan tersebut. “Tapi, untuk biaya tidak langsung, perlu pembicaraan lebih lanjut,” kata dia.

Dianing Sari

Sabtu, 03 Juli 2010

Rokok Sebabkan Learning Disability Pada Anak

Sabtu, 03 Juli 2010, 13:41 WIB
Smaller Reset Larger
wordpress
Rokok Sebabkan Learning Disability Pada Anak
ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Anak-anak yang menghisap asap rokok (perokok pasif) bisa menyebabkan learning disability. Artinya, kemampuan anak-anak untuk menyerap pelajaran dan ilmu pengetahuan menjadi kurang. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kartono Muhammad mengatakan hal ini yang sering tidak disadari masyarakat.

"Kualitas otak atau intelektualitas anak tidak optimal dan tidak seperti yang diharapkan," katanya dalam workshop "Investigasi Fakta di Balik Mitos Industri Tembakau" di Hotel Santika pada Sabtu, (3/7).

Acara workshop ini digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) selama dua hari yang melibatkan sejumlah wartawan media cetak dan elektronik.

Bahaya rokok pasif pun tidak datang dari kepulan asap. Celakanya, lanjut Kartono, asap rokok yang menempel di ruangan atau benda pun ikut berperan. Sebab, asap rokok itu akan bertahan selama tiga tahun di sana. Jadi, anak-anak pun tetap menjadi perorok pasif meski berada di ruangan yang disterilkan dari asap rokok secara temporal.

''Ini diperparah dengan tingkat konsumsi rokok masyarakat Indonesia yang tinggi. "Dua dari tiga laki-laki Indonesia merokok," katanya.

Kartono juga memperkirakan 60 persen laki-laki di Indonesia adalah perokok aktif. Ia juga mengatakan bahwa rokok termasuk barang konsumsi terbesar orang miskin di Indonesia. "Orang miskin Indonesia mengalokasikan dananya untuk beras, rokok, pulsa, makanan, dan pendidikan," ujarnya.

Amat disayangkan, kata Kartono, jika uang masyarakat Indonesia lebih dialokasikan untuk membeli rokok dibandingkan memperbaiki gizi anak dan keluarganya. "Untuk kesehatan, pendidikan, atau membeli makan, mereka bilang tak punya uang, tapi untuk rokok, uang selalu ada," sesalnya.

Belum lagi pendekatan pemerintah yang dianggapnya keliru terutama terhadap pengaturan rokok. Ia mencontohkan kebijakan bantuan langsung tunai (BLT). "Kebijakan ini justru sering dialokasikan orang miskin untuk rokok," katanya.

Ini menunjukkan tidak ada pembinaan untuk bahan baku berupa sumber daya manusia untuk perbaikan kualitas masyarakat Indonesia. Meskipun pendidikan dianggap bisa menjadi jalan untuk meningkatkan tingkat intelektualitas seseorang, namun Kartono beranggapan hal tersebut hanya salah satu aspek saja. "Aspek input, yaitu anak-anak pun punya peranan terhadap tingkat kualitas SDM di masa depan," katanya.

Selasa, 22 Juni 2010

Aktivasi Otak Tengah Bukan Supranatural?

Senin, 21 Juni 2010 | 10:51 WIB
shutterstock
Setelah midbrain atau otak tengah seorang anak diaktifkan, fungsi dari otak kanan dan otak kiri dapat berjalan secara seimbang. Otak kiri tidak lagi menekan otak kanan.
TERKAIT:

KOMPAS.com - Aktivasi otak tengah bukanlah suatu hal yang magis atau berbau supranatural lantaran mampu membuat anak memiliki kemampuan luar biasa dan mampu mempertontonkan kemampuannya itu secara menakjubkan seperti di program-program hiburan sulap di layar kaca. Aktivasi otak tengah dilakukan dengan secara ilmiah.

Demikian seperti yang disebutkan dalamwww.otaktengah.com. Aktivasi otak tengah (mid brain activation) ini banyak mempergunakan gelombang otak Alpha, yang telah dibuktikan secara ilmiah sebagai gelombang otak yang muncul dominan pada saat kita dalam keadaan relaks dan paling kreatif.

Gelombang otak ini biasanya dominan pada saat kita bangun tidur, atau dalam keadaanrelax di toilet, atau bahkan sedang berendam air panas di bathtub. Tidak heran, mengapa Archimedes menemukan "hukum Achimedes" saat dia sedang mandi.

Otak tengah yang teraktivasi memancarkan gelombang otak yang mirip seperti radar. Hal ini membuat pemiliknya mampu melihat benda dalam keadaan mata tertutup.

Pada dasarnya, gelombang tersebut terletak di bawah hidung dan hanya mampu mendeteksi benda yang terletak sedikit di bawah hidung. Namun, latihan yang teratur dapat membuat sang anak menjadi lebih kuat dan mampu melihat benda yang terletak lebih tinggi lagi.

Bahkan, ada beberapa anak yang dapat medeteksi sampai 360 derajat. Hal itu berarti mereka dapat mendeteksi benda yang terletak di belakang, atas dan semua arah.

Training aktivasi otak tengah telah mulai dilakukan di Indonesia. Saat ini belum banyak orang yang mengetahui keberadaan dari training ini. Training biasanya dilakukan selama dua hari seperti yang ditemui Kompas.com pada sebuah acara pelatihan mid brain activation di Jakarta, Sabtu (19/6/2010).

Pada saat itu juga, biasanya, dilakukan training untuk para orang tua. Seperti juga bidang keahlian lainnya, orang tua berperan besar untuk dapat membantu anak-anaknya mengembangkan potensi otak tengah mereka.

Seorang anak dengan otak tengah yang kuat, diharapkan dapat mengembangkan otak kanan dan otak kiri secara lebih maksimal sehingga mereka dapat masuk kategori jenius.

Bukan hanya dalam otak kiri (IQ, intelektual) atau otak kanan (emosional, EQ), tetapi juga dalamLoving Inteligence. Mereka adalah individu yang seimbang dan mengasihi orang lain seperti sang pencipta mengasihi dia. Sayangnya, training aktivasi otak tengah ini hanya dapat dilakukan untuk anak umur 5 – 15 tahun saja

Kamis, 03 Juni 2010

Masa depan Palestina tidak bergantung pada Israel

Perselisihan antara Bani Israil dan Bani Ismail, atau antara bangsa Israil dengan bangsa Arab/Muslim dimulai sejak diutusnya keturunan Bani Ismail, bangsa Arab rasul terakhir Nabi Muhammad saw. Dalam perjalanan pangjang sejarah nabi-nabi, hampir sebagian besar nabi-nabi diutus dari kalangan Bani Israil. Namun nabi akhir zaman diutus dari keturunan Qurays dari Bani Ismail. Bani Ismail adalah keturunan dari nabi Ismail, anak dari nabi Ibrahim dan siti Hajar. Sedangkan Bani Israil adalah keturunan nabi Yakub cucu nabi Ibrahim. Nabi Yakub dikenal dengan sebutan "Israil". Oleh karena itu anak cucu nabi Yakub dikenal dengan "bani Israil". Nabi Yakub sendiri adalah anak dari nabi Ishaq, putra nabi Ibrahim dengan siti Sarah. Walaupun nabi Yakub dan anak cucunya keturunan dari nabi Ishaq, tetapi julukan "Bani Ishaq" jarang digunakan.

Perpindahan arah kiblat dari kiblat "baitul Maqdis" Palestina ke kiblat "baitul haram" Mekkah, merupakan persitegangan sejak jaman Nabi Muhammad saw. Dimana banyak orang Israil yang telah masuk Islam mereka kembali lagi ke agama semula. Hingga banyak peristiwa perselisihan dan konfrontasi yang didalangi atau berhadapan dengan Yahudi/Israil, tatkala nabi tinggal di Madinah. Sebagaimana terekam dalam firman Allah :

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“orang-orang yang kurang akalnya[93] diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus" (QS.Al-Baqarah 2:142)


Perselisihan bani Israil dengan bani Ismail, antara Israil/Yahudi dengan Arab/Muslim tidak bisa bisa dihindari, karena telah janji itu telah ditetapkan Allah. Diantara ketetapan itu adalah bahwa tidak ada hak bagi bani Israil setelah munculnya Islam. Bukan karena waktu yang ditentukan sudah habis, namun karena mereka bani Israil melampaui batas, dengan melakukan tipu daya untuk melanggar apa yang diharamkan Allah. Juga menyalahi wasiat dan syariatnya dengan bersikap berani terhadap Nabi dan hamba-hamba Allah yang saleh. Semua itu dilakukan pada saat mereka jaya. Selain itu juga bani Israil banyak melanggar ketentuan-ketentuan bermuamalah dengan Allah dan sesama bangsa mnusia pada umumnya. Itulah sebabnya tidak heran apabila Israil banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan dan perjanjian serta konvesi Internasional, termasuk tidak mematuhi resolusi PBB berkali-kali.

Sungguh sirnalah janji Allah kepada bani Israil untuk memaafkan dan memberikan pertolongan, setelah kejahatan-kejahatan telah begitu banyak mereka lakukan dari dulu hingga kini, dari sejak zaman nabi Musa as. nabi bani Israil hingga nabi Muhammad saw dari bani Ismail.

Sikap sombong, rakus, melampaui batas, melecehkan kehormatan agama, tidak mempedulikan hak-hak orang lain, menumpahkan darah, bahkan mereka dengan terang-terangan berani menantang perang dengan Islam berikut nabi dan umatnya. Tidak puas itu semua mereka membakar Masjid Al-Aqsa, meneguk minuman keras diserambi-serambinya dan melakukan perbuatan keji didepan pintu-pintu masjidil Aqsa.

Sepanjang sejarah sejak diaspora, menyebar ke penjuru dunia, bani Israil belum pernah bergabung dan berkumpul dalam jumlah besar seperti sekarang ini, hingga mendirikan negara Israil. Mereka berhamburan menuju Palestina pada saat kaum muslimin lengah. pengungsian mereka tahun 1882 sebanyak 25.000, ditambah lagi menyusul 5000 yahudi Eropa di tahun 1895 dibawah ketiak kolonialis Inggris hingga jumlah mereka membengkak 300.000 setelah perjanjian Belferd 1917, kemudian bertambah lagi menjadi 670.000 pada tahun 1948, begitulah seterusnya menyusul secara beruntun dari seluruh dunia hingga jumlah mereka 4 juta jiwa.

Dalam waktu singkat mereka berhasil bermukim di negeri Palestina, lalu membangun perkotaan, sekolah-sekolah dan pabrik-pabrik. Begitulah liciknya Yahudi dalam menguasai dan mengambil tanah penduduk Arab Palestina.

Nabi bersabda dari hadits riwayat Bukhori Muslim dari Ibnu Umar, bahwa : "suatu saat Yahudi akan menyerang kalian, lalu kalian dapat mengusai mereka, sehingga seseorang diantara mereka bersembunyi dibelakang batu, lantas batu itu berkata, wahai hamba Allah, ini Yahudi dibelakangku, bunuhlah dia". Kita berharap dunia masa depan akan kembali dipimpin Islam, menegakkan kebenaran dan mengatur dunia Internasional dengan undang-undang Allah, semoga, amin.

Minggu, 30 Mei 2010

PEMBELAJARAN SEJARAH LOKAL

Sejarah selalu berangkat dari akar sejarah dan budaya lokal suatu masyarakat atau suatu bangsa. Agar peserta didik memiliki rasa ingin tahu dan membutuhkan terhadap pelajaran yang disampaikan. Materi tentang sejarah Kesultanan Banten akan mempunyai daya tarik tersendiri bagi siswa siswi Banten. Demikian pula dengan daerah-daerah lain. Tentunya sangat berbeda bila dibandingkan dengan mempelajari sejarah di daerah lainnya. Bukan berarti sejarah nasional dan sejarah dunia tidak perlu dipelajari. Akan tetapi sejarah lokal menjadi titik tumpu bagi siswa untuk mempelajari sejarah yang berskala nasional dan sejarah glabal dan sejara-sejarah lainnya.


Atas dasar itulah memasukan sejarah lokal sebagai suatu kurikulum di sekolah mesti diupayakan dan diperjuangkan, dalam rangka mengotimalisasikan pembelajaran sejarah yang kurang diminati para siswa. Sekaligus pula menjadikan peserta didik tahu akar sejarah dan budayanya sendiri. Sebab globalisasi dan kurangnya kurikulum sejarah mengarahkan kepada sejarah lokal ini menjadikan para siswa asing terhadap akar sejarah dan budaya nenk moyangnya. Siswa-siswi terlampau dibawah jauh ke luar daerahnya (lokalnya) dalam menyelami riwayat sejarah dan budayanya. Mereka tahu sejarah nasional dan sejarah dunia, tapi tidak kenal pada sejarah dan budaya tempat kelahirannya sendiri.

Demikian juga dengan pelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa harus dimulai dari bahasa ibunnya, bahasa daerahnya, bahasa nasionalnya, baru kemudian bahasa dunia internasional. Sehingga bahasa, budaya dan sejarah lokal/daerah mewarnai daerah tersebut dengan warnanya sendiri. Inilah sebuah pemikiran yang benar. Beranjak dari warna-warni perbedaaan keindonesiaan kemudian diuntai para pendiri bangsa ini dengani “bhinneka tunggal ika”. Proses dan tahapan ini telah kita lampaui melalui perjalanan panjang hingga diambil inisiatif cerdas para pemuda dengan memberikan stimulus bagi lahirnya bangsa ini dengan “sumpah pemuda”, yang mengakui keanekaragaman bahasa, budaya, sejarah, suku, agama dan lain-lainnya untuk “bertanah air satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia”. Ibarat warna-warni pelangi yang di dibentuk asalnya dari satu warna cahaya putih matahari yang menyinarkan cahaya setiap hari. Itulah Indonesia.

Tidak ada Indonesia tanpa adanya warna-warni dari bahasa, budaya dan sejarah latar belakang daerah masing-masing. Oleh karena itu setelah Indonesia merdeka, hendaklah arif untuk tidak mengIndonesiakan Indonesia tetapi tidak mendaerahkan daerah. Mari kita jaga warna-warni tetapi tidak melupakan warna asli merah putih Indonesia. Mari kita jaga warna-warni daerah dengan melestarikan warna aslinya dengan tidak memaksakan warna Indonesia yang lebih dominan, apalagi warna dunia. Kita lestarikan bahasanya dengan bahasa daerah, kita lestarikan budayanya dengan budaya daerah dan kita upayakan untuk memahami akar sejarahnya dengan sejarah daerah/lokal.

Selama ini sejarah yang diajarkan di sekolah kurang bermakna bagi siswa. Ironis sekali. Siswa diajak untuk mempelajari asal-usul daerah lain. Namun, tidak memahami asal usul daerahnya sendiri. Guru sebagai ujung tombak dalam pembelajaran sejarah juga tidak memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan materi dan metode pembelajaran. Karena, guru kurang memiliki pemahaman teori dan metodologi sejarah.


Di sinilah persoalan pembelajaran sejarah menjadi semakin rumit. Siswa sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran juga merasa bosan karena belajar sejarah hanya menghafalkan nama-nama tokoh, angka-angka tahun, dan benda-benda peninggalan yang kusam. Oleh karena itu perlu sekali mengubah paradigma dalam pembelajaran sejarah yang cukup memberikan stimulus siswa untuk mempelajari sejarah. Di antaranya siswa diajak untuk mampu memparalelkan sejarah dunia dengan sejarah nasional dan sejarah lokal dengan metode yang inovatif.


Saatnya semangat yang terkandung dalam diberlakukannya Otonomi Daerah sudah semestinya mengacu kepada kemandirian. Masyarakat secara sadar membangun dirinya menjadi manusia yang amanah dan mampu memanfaatkan sumber daya. Baik manusia dan alam untuk kemaslahatan masyarakat. Dalam konteks tersebut di atas pembelajaran sejarah khususnya sejarah lokal menjadi relevan.


Anak bangsa di negeri ini sudah sewajarnya diperkenalkan dengan lingkungan yang paling dekat yaitu desanya, kemudian kecamatan, dan kabupaten, baru tingkat nasional, dan internasional. Apabila mereka mencintai sejarah di daerahnya maka secara otomatis anak didik akan mengetahui tentang kearifan lokal tentang kebudayaan di daerahnya.


Sejarah lokal mempunyai arti sangat penting bagi anak didik kita. Dengan mempelajari sejarah lokal anak didik kita akan memahami perjuangan nenek moyangnya. Efek globalisasi sangat luar bisa, seolah tidak bisa dibendung. Koran, radio, televisi, internet dan lain-lain sangat mempengaruhi warna masyarakat kita. Pengaruh-pengaruh yang merusak keindonesaan dan kedaerahan semestinya harus kita ditangkal dengan kerifan, untuk tumbuh kembalinya kearifan lokal yang kita harapkan.